Sore Tanpa Beban
,


Langit masih cerah, mentaripun masih penuh semangat menebar sinarnya meski hari sudah beranjak petang. Hampir pukul 16.00 WIB. Sore yang cerah secerah hati kami saat ini. Aku dan temenku, Ayu namanya. Kami sama-sama ibu muda dimana waktu dan hanya milik anak dan suami, rasanya tak ada sedikit saja hari tersisa untuk memanjakan diri. Tapi tidak hari ini saat menjelang sore. Kami mencoba melepaskan semua beban yang ada dipundak.

Sore ini suasana masih begitu lengang, hanya beberapa pedagang asongan dan dan pemilik kafe sedang menunggu wisatawan lokal. Oh....sore yang indah dengan hamparan pantai yang bersih serta luasnya mata mengitari kejauhan laut. Sekejab semua beban meleleh menjauhi diriku.

Suasana menjadi lebih amazing ketika aku dan Ayu mulai meletakkan ban pelampung, kemudian kami sama-sama menaikinya, lalu terjatuh-dan tenggelam bersama juga. Kami tertawa begitu lepas. Apalagi ketika air bergulung datang menghapiri kami, WOWWW.........sungguh menyenangkan, terombang-ambing oleh air laut, mencoba-coba berenang, tibul-tenggelam dalam dalam tawa yang lengkap. Ya... ku akui sore ini memang sore tanpa beban.

Mungkin ini terlihat biasa saja, tapi tidak bagi kami. Sore ini adalah sore yang menyenangkan sekaligus melelahkan, karena esoknya leverku nyeri lagi. Hick......hick.........

Jilbab Dan Dunia Peran
,

Oki Setiana Dewi, seorang artis pendatang baru didunia perfilman Indonesia. Begitu ia mendapatkan peran sebagai Anna althofunnisa dalam sebuah film garapan Khairu umam, ketika cinta bertasbih (KCB).Dalam film itu Okki mampu menyabet dua penghargaan sekaligus. Sebagai pendatang baru perempuan terfaforit dan pendatang baru terbaik.

Sosok Oki setiana dewi yang berjilbab atau sering disebut jilbaber, bukanlah hal yang mengalanginya untuk ikut bermain dalam seni peran. Dan kehadirannya sebagai artis yang berjilbab ternyata malah mendapat sambutan yang baik dari para penikmat film, itu terbukti dengan dua tropi yang ia peroleh pada malam penghargaan para bintang.

Disisi lain kehadirannya dalam dunia film juga menginspirasi banyak orang bahwa, berakting tidaklah lantas harus tampak seksi dan menggoda, bajupun tidak perlu buka-bukaan. seperti kebanyakan artis kita.

Lalu bagaimana dengan artis lokal (aceh). Adakah mereka para artis menggunakan jilbab sesuai syari'at? sedangkan kita adalah daerah yang terkenal sebagai daerah yang telah menerapkan hukum islam. Salah satunya adalah dalam hal berpakaian.

Dalam agama islam, cara berpakaian telah diatur dengan sedemikian jelasnya, sehingga tidak ada lagi tawar menawar. Aurat yang harus ditutupi bagi seorang laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan bagi kaum perempuan aurat yang harus ditutupi adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Kemudian jika kita menilik para artis perempuan kita, kebanyakan dari mereka belumlah sesuai dengan syari'at. Saya atau sebagian anda juga sering melihat pakaian para artis lokal kita yang tak sesuai dengan islam. Sebut saja artis A, ia menggunakan pakaian lengkap dan panjang, tapi mengapa mereka hanya menyelampirkan jilbabnya? atau menggunakan jilbab dengan memamerkan sedikit rambutnya dengan batang leher yang masih terbuka? Bukankah ini adalah sebuah penyelewengan terhadab jilbab dan makna menutup aurat?

Kalau masyarakat tidak mengenakan jilbab, maka ia akan ditangkap oleh polisi syari'at alias (WH), Namun jika artis yang tidak memakai busana muslim dengan baik mengapa dibiarkan? Bukankah para artis ini akan dilihat, ditonton dan ditiru banyak orang. Alangkah lebih indahnya juka para artis kita menggunakan busana muslimah yang sejati, yang benar-benar menampilkan cintra islam. Karena seperti kata Niniek L. Karim bahwa " Seringkali film terinspirasi dari kehidupan nyata, akan tetapi tak jarang juga film menginspirasi orang untuk mempraktekkan dalam kehidupan". Dari itu terlihat sekali bahwa peran para artis sedikit ataupun banyak telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat.

Mungkin gaya busana muslim yang yang ditampilkan Okki bisa menjadi inspirasi dan introspeksi bagi artis-artis kita. Bahwa berpakaian lengkap, berjilbab dengan baik dan benar bukanlah penghambat karier didunia peran, Malah sebuah pencitraan yang baik bagi diri sendiri, sesuai dengan agama islam dan menjadi tauladan bagi muslimah lainnya.

“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR. Muslim)

Hati kecil sedang gelisah
,


Istri mana yang tak bahagia jika usaha sang suami sedang akan membawa titik terang. Begitu juga dengan Riana (nama samaran). Ia juga senang mendengar bahwa impian memajukan usaha suaminya sebentar lagi akan terwujud, ia telah mengantongi sebuah rekomendasi. Tapi dalam kebahagiaan itu terselinap rasa gelisah yang tiada tara.

Suatu kali saat terlintas dipikirannya bahwa sang suami membuka usaha dengan tangan kosong alias tak bermodal. Tidak layaknya pengusaha-pengusaha lain yang membuka usaha dengan kantong tebal. Sedangkan membuka usaha bukanlah hal yang mudah, apalagi kalau tanpa modal. Seorang pengusaha tanpa modal paling nantinya akan meminjam uang untuk modal dasarnya! Lantas adakah orang yang mau memberikan modal tanpa jaminan? Kembali Riana mengeryitkan dahi. Tidak! Kalaupun ada, seribu banding satu. Lalu bagaimana mengatasinya? Dan bank adalah solusi utama.


Siapa yang tak kenal bank. Bank adalah perusahaan yang bergerak dibidang keuangan yang juga memberikan jasa simpan pinjam. Dan yang pasti orang akan melirik jasa bank sebagai pemberi modal, meski dengan segudang persyaratan. Ada juga seh yang tidak banyak syarat, akan tetapi bunganya sangat tinggi. Disinilah kegelisahan mulai mengerayang. Bank dan bunga. Bunga dan riba. Riba dan keharamannya. Kalau katanya saat ini ada bank syariah. Nyatanya masih ada juga bunga2 disana-sini. Entahlah......atau ia saja yang kurang paham. Tapi, begitulah pemahamannya selama ini.

Riba!
Allah telah memberitakannya dengan jelas dan gamblang tentang bagaimana riba dan apa sanksi bagi pengguna riba. Riba adalah penambahan pada modal pokok sedikit ataupun banyak lipatannya. Riba bukan lagi masalah bagi kebanyakan orang. Itu terbukti dengan banyaknya orang yang menabung di bank. Riana sendiri juga menggunakan bank sebagai alat untuk memudahkannya mengirim atau menerima uang untuk sebuah keperluan.


Dan Rianapun semakin gundah ketika suaminya mengatakan akan mengambil uang bank sebagai modal. Ia begitu takut pada ancaman Allah, tetapi ia tak dapat memberikan solusi lain. Riana jadi ngeri sendiri. "Apa iya aku sudah hidup di akhir jaman, sehingga tidak ada lagi orang yang mampu menghindar dari riba?" pikirnya kalut. Hadist-Hadist nabi dan peringatan-peringatan akan riba selalu mengusik ketenangannya. Seperti hadist nabi...


“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).


Gundahnya semakin dalam ketika ia kembali teringat akan putusan bagi orang yang memakan riba.Ia tergugu, namun tetap tak ada jalan lain selain meminjam modal pada Bank.


“Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (HR Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad yang shahih).


“Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripada perbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam)” (HR Al Baihaqy, dari Anas bin Malik).


Dalam hal ini, Ibnu Abbas berkata:

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkannya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Kepala Negara Islam) untuk menasehati orang-orang tersebut. Tetapi kalau mereka masih tetap membandel, maka seorang Imam dibolehkan memenggal lehernya”.



Oleh karena itu, tidak ada satupun perbuatan yang lebih dilaknat Allah SWT selain riba. Sehingga Allah SWT memberikan peringatan yang keras bahwa orang-orang yang memakan riba akan diperangi (QS Al Baqarah : 279).

Jika pada awalnya riba yang diharamkan hanya yang berlipat ganda, akan tetapi sebelum Rasulullah saw wafat, telah diturunkan yaitu ayat-ayat riba (QS Al Baqarah dari ayat 278-281) yang menurut asbabun nuzul-nya merupakan ayat-ayat terakhir dari Al Qur-aan. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut ditegaskan bahwa riba, baik kecil maupun besar, berlipat ganda atau tidak, maka ia tetap diharamkan sampai Hari Kiamat. Lebih dari itu, melalui ayat 275 dari rang­kaian ayat-ayat terse­but, Allah SWT telah mengharamkan segala jenis riba, ter­masuklah di antaranya riba (bunga) ban
k.

Sedangkan sodara dan sanak famili Riana belum ada yang memiliki uang sekian banyak, semua saudara-saudaranya hanyalah petani-petani desa. Dan sampai hari ini Riana masih diliputi perasaan gelisah berkerpanjangan jika sang suami tak mendapatkan modal dari jalan lain. Ia pun pasrah dengan penuh gelisah. Akankah usahanya tidak memakan barang haram selama ini harus kandas hanya karena usaha suami yang menuntut modal besar?









Episode GB
,


Rasa suka dimulai dari telinga
Rasa cinta dimulai dari mata

Bila aku ingin berhenti menyukai seseorang
cukup dengan dengan menutup telinga
Tapi... bila aku ingin menutup mata
dari orang yang aku cintai
Cinta itu berubah jadi air mata
Mengendap didalam hati
Dan harus dikembalikan suatu saat nanti

Atau haruskah aku melupakan orang yang nyata didepanku.

###

Hal yang paling menyedihkan adalah...
Jika kita bertemu seseorang, kemudian jatuh cinta

Yang pada akhirnya harus menyadari
Jika dia bukan jodoh kita.

###

Rasa cintaku ingin memilikinya
Tapi rasa sayangku hanya ingin melihatnya bahagia,
Walaupun harus rela kehilangan

Memang menyedihkan:
Melihat orang yang kita cinta
Hidup dengan orang lain

Tapi....lebih menyakitkan lagi
Bila melihatnya tak bahagia
Hidup dengan kita

###


Malam ini episode pesimistis telah berakhir.
Sebelum tidur aku akan keluar
Mengangkat pandanganku kelangit
Aku akan mengucap syukur pada Tuhan
Atas kehidupan yang baik ini

Kemudian aku akan tidur
Seperti tidurnya anak-anak yang bahagia
Karena aku tahu, keputusanNya
Adalah yang terbaik buat hidupku esok
Aku rela....
Terima kasih Tuhan.

###

Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah
Dan aku akan memulai perjalananku yang bahagia ini dngan optimis
Pagi ini cahaya mentari terasa hangat
Sehangat senyummu yang mempesona.
###



Aku Takut Kerja
,


Tidak sedikit dari teman sesama wanitaku yang mengeluh dan ingin memiliki karier dengan gaji yang lumayan. Ada yang mengeluh kok belum diterima kerja! Tidak ada lowongan kerja! Sampai yang tidak lulus CPNS. Kelihatannya mereka sangat susah dan sudah sangat menggebu untuk berkarir keluar rumah, mencari lembaran rupiah yang tentunya untuk kenyamanan hidup. Keinginan seperti ini sangatlah wajar, karena model dunia saat ini yang menuntut banyak materi. Cari uang bukan sekedar untuk makan.


Tidak berbeda dengan ibuku dan juga ibu mertuaku. Beliau-beliau begitu ingin melihat aku memakai baju seragam, entah itu sergam kantor swasta ataupun seragam milik pemerintah. Entah sudah berapa kali beliau-beliau ini mengingatkan aku untuk mencari pekerjaan sendiri. Berpenghasilan sendiri untuk membantu keuangan keluarga. Yach....itupun tak sepenuhnya salah.

Siapa yang tak ingin memiliki kendaraan yang bagus, membelikan mainan anak yang banyak dan aneka rupa, menyantap makanan yang berlain-lain menu setiap harinya, memiliki berlembar-lembar gaun yang indah dengan aneka warna dan sebagainya. Siapa yang tidak ingin. Ini adalah manusiawi, asal tidak berlebih-lebihan. Jika sudah begini, maka uang-lah yang berbicara.

Seorang istri boleh saja bekerja, asal ia mendapatkan izin dari suaminya dan tidak lupa akan tugas-tugasnya yang utama. Yakni anak dan keluarga.

Sedangkan prinsip aku dan suami sama. "Selagi suamiku bisa mencukupi keluarga, maka ia takkan rela melihat aku keluar rumah dan meninggalkan anak-anak." Dan mudah-mudahan allah meridloi dan mempermudah jalan rizki suamiku.

Bukankah dalam islam sendiri telah diatur sedemikian rupa, dan tidak memberatkan salah satunya, baik perempuannya ataupun laki-lakinya. Dengan kemampuan dan kekuatan yang lebih, Allah membebankan urusan nafkah (mencari uang) ada pada laki-laki. Sedangkan perempuan, dengan kelemah lembutannya ia mendapati tugas yang sesuai, mengurus anak-anak dan rumah (bukan berarti juga istri layaknya pembantu). Pekerjaan-pekerjaan rumah bukanlah kewajiban istri, akan tetapi allah menjajikan fahala yang banyak jika ada istri-istri yang yang melakukannya dengan ikhlas.

Ketika sekitarku, para wanita berlomba menambah penghasilan, tidak dengan diriku. Walau kadang sifatku sebagai manusia sekaligus wanita yang digambarkan selalu banyak keinginan muncul juga dan mulai merayu-rayu otakku untuk berkarir. Namun jauh dilubuk hatiku, aku tidak ingin membiarkan anakku menangis dalam dekapan orang lain. Ketakutan yang amat juga menyerangku, aku takut jika aku bekerja, aku tidak bisa sempurna dalam melayani suami. Lagi pula, jika aku bekerja maka aku akan memiiki dua jenis pekerjaan, kantor dan rumah. Aku juga takut, jika aku kecapaian, akan timbul rasa ketidak-adilan dan rasa tidak puas akan hasil kerja suami. Kehawatiran-kekhatiran inilah yang membuat aku terus bertahan menjadi istri dan ibu yang utuh dan membiarkan bayangan-bayangan kenikmatan materi mengabur dengan sendirinya.



Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul
,


Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.

Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :

“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’

Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”

Sumber: eramuslim.com



Senam Wajah Untuk Awet Muda
,


Perempuan menginginkan kulit wajah yang halus, kencang dan bersinar. Untuk membuat kulit tetap indah tak hanya memakai produk-produk kecantikan saja, dengan melakukan senam wajah, dapat mengembalikan kecerahan wajah.

Dahi
Pijatkan alis dengan jari-jari Anda. Tarik kebawah. Kemudian naikan alis, dan ulangi sepuluh kali.

Kelopak mata
Untk membuat mata cerah. Letakkan ibu jari di sudut mata, kemudian tutup mata. Kemudian, dengan ibu jari, tarik kulit ke arah dahi. Ulangi sepuluh kali.

Pipi
Bibir membentuk huruf 'O'. Kemudian tersenyum seluas mungkin. Ulangi sepuluh kali. Dengan cara ini bisa membuat awet muda.

Bibir
Mendorong bibir keluar membentuk huruf 'U' sejauh yang Anda bisa, kemudian tersenyum. Atau Anda dapat mengisap jari Anda sekuat mungkin. Sekali lagi, ulangi sepuluh kali.

Dagu
Tekan ibu jari pada tulang tepat di bawah dagu dan kemudian julurkan lidah keluar. Kemudian pijat dagu sampai bawah kuping. Hal ini ini melancarkan peredarah darah.

Sumber: .wolipop.com


Bapak Hilang Ditelan Hujan II
,

Bapak Hilang Ditelan Hujan I

Seminggu, dua minggu dan sebulan berlalu, bapak masih belum pulang juga. Aku sudah demikian khawatir, mengapa bapak belum pulang. Lebih-lebih ibu, beliu nampak begitu cemas. Pernah diminggu pertama setelah kepergian bapak ibu menanyakan kabar bapak ke pak Marni, teman mbalok bapak. Katanya; mereka pulang sama-sama. Kemudian dipersimpangan bapak pamit ada urusan sebentar, beliau menyarankan agar pak Marni dan Dakir pulang lebih dulu.

Setengah tahun sejak kepergian bapak, rasanya kedamaian dan kebahagian mulai terkikis. Saat aku tahu bahwa orang-orang yang datang kerumah adalah orang-orang yang meminta uang mereka kembali. Dan itu adalah hutang bapak. Rasanya tak tega melihat ibu berjuang sendiri dalam menghidupi empat orang anaknya bersama himpitan hutang yang tidak sedikit. Tapi, lagi-lagi aku tak dapat berbuat apa-apa selain menjaga adikku yang masih kecil, Sedang ibu gigih bekerja. Selain menggarap sawah sendiri, beliau bersedia menjadi buruh PT kelapa sawit yang gajinya sangat rendah. Karenanya, pukul 03.00 dini hari ibu sudah selesai memasak dan bersiap pergi keperempatan jalan untuk menunggu mobil truk yang akan mengangkut para buruh yang mayoritasnya adalah kaum perempuan itu.
************

Biasanya pukul 18.00 ibu sudah sampai dirumah. Kadang saja di sela-sela istirahatnya, ibu masih sempat merajut benang wol untuk dijadikan taplak meja ataupun bunga-bunga, sesuai dengan pesanan orang-orang sekitar. Entahlah.... tak terbayangkan bagaimana lelahnya ibu, aku hanya mendesah nafas membayangkan semuanya.

Hari hampir hilang. Mega menguning emas di ufuk barat, menandakan waktu magrib sebentar akan tiba. Tapi tak ada tanda-tanda ibu pulang, karena belum terdengar suara truk meraung-raung di jalan becek berlumpur di jalan desa. aku mulai resah.

" Mbak!?"
"Kenapa Fif?" Ternyata adik-adikku mulai resah juga.
" Ibu kok belum pulang ya mbak? jangan-jangan ibu juga pergi ninggalin kita, kayak bapak?"
Ya Allah, seketika sudut mataku basah. Secepat kilat kuhapus agar tak meninggalkan kesan sedih dimata adik-adikku yang lucu dan lugu.

" Ngga Fif, ibu pasti pulang kok. Mungkin ibu masih dijalan sayang." Hiburku
Ku usap-usap rambutnya dengan mengajaknya bicara tentang berbagai hal yang indah. Harapanku; agar ia tak terlalu memikirkan kepulangan ibu, biarlah aku yang memikirkannya. Rasanya tak ingin gadis kecil yang lucu ini jadi murung karena masalah kehidupan yang rumit.

Jam di dinding telah menunjuk angka sembilan malam. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Sedang ketiga adikku telah terlelap dalam mimpinya masing-masing, Dunia mimpi yang penuh keindahan dan spontanitas kemudahan. Ahh... seandainya saja waktu dapat diputar ulang, maka tak akan aku izinkan bapak pergi mbalok. Pikiranku makin tidak karuan. Entahlah...... aku pasrah saja. dalam kerancuan fikir itu, ku dengar derap langkah di sekitar rumah hingga berhenti didepan pintu.

"Assalam alaikum...."
"Ibuuuuuuuuu!!!!!!!"
Aku terus menghambur menuju pintu depan saat kukenali bahwa itu adalah suara ibu. Aku bahagia, penantianku selesai sudah. Sayang adik-adik sudah tidur, pasti mereka akan terlihat begitu riang jika mengetahui kedatangan ibu. Cukuplah kami kehilangan bapak, dengan ibu kami masih tegar menjalani hari.

Tamat


####
mbalok : menepikan kayu balok saat air sungai besar/banjir
wong telu: tiga orang
mbawon : buruh memanen hasil tanian dengan upah yang disepakati

Rasa ketidak adilan itu racun.
,


saat membaca artkel ini, perasaanku kacau....antara meng-iyakan dan menolaknya. Aku takut mengatakan Allah tidak adil (karena sifatNYA adalah maha adil). Aku segera beristigfar...memohon ampunan-NYA. Aku terus saja sibuk menelusuri komentar2 yang ada....dan alhamdulillah , puji untukMU allah...Aku temukan jawaban itu. Jawaban yang membuat hatiku sangat sejuk.

ADE YUNISTRIA
Wanita emang Asyik.............mengapa......??

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak)dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
9. Dll.

Mengapa itu terjadi
----------------------------
1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan,ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Dan hidup ini indah. Sebenarnya semua juga sudah ada aturannya, kalau sang pria harus mencari nafkah sedang istri mengerjakan pekerjaan rumahnya. Hanya saja...seringkali sang perempuan tidak puas dengan jerih payah sang suami sehingga ia sibuk mencari tambahan riski. Jadi ya harus kerja double...Tapi yang pasti hidup kita akan bahagia jika kita memerankan apa yang seharusnya menjadi peran kita, bukan pribadi ganda....


Bisnis Kerupuk Pulli
,


Ternyata ga punya uang alias duit sangat susah. Mangkanya banyak banget orang yang menggunakan segala daya upaya biar bisa ngedapetin yang namanya duit. hidup dijaman materialis ini, duit udah seperti tuhan. Semua urusan pake duit. Dari urusan kecil sampe yang gede juga pake duit. Hayo ngaku siapa yang ga mau duit?????????


Ngomongin masalah duit. Sekarang aku jadi belajar berbisnis. Bisnis ini sebenarnya skala besar, hanya masih aku mulai pada titik nol koma, so... jangan tanya dulu berapa omzetnya perbulan.

Kerupuk ini berbahan dasar beras, ditambah kristal bleng, bawang putih dan sedikit ketumbar. Gurih, enak, kriukk-kriukk begitulah gambarannya. Sebenarnya kerupuk ini adalah kerupuk yang sangat tidak populer di kalangan masyarakat Jawa Timuran (asal kerupuk pulli ini), karena kerupuk ini hanya terbuat dari nasi sisa ( Catatan: nasi sisa, bukan nasi basi!)

Tapi tidak dengan kerupuk buatanku ini. kerupuk pulli yang kubuat bukan dari nasi sisa tapi benar2 nasi yang dikukus khusus untuk dijadikan kerupuk pulli.

Mau tahu rasanya?


Ibuku...Kebanggaanku
,


Ibu. Siapa yang tak bangga akan ibunya? Kalau memang ada, mungkin akalnya sudah berkurang. Dalam episode ini (kontribusi blogger, inspirasi untuk negeri) aku akan menuliskan tentang ibuku, tidak hanya karena ia melahirkan, menyusui, dan mengasuhku dengan cermat dan teliti-penuh kasih sayang. Hal ini sangatlah lazim meski kita tak akan pernah mampu membayarnya. Mak (begitulah biasanya aku memanggil beliau) biarkan aku ukir namamu dalam tulisanku. Tidak untuk apa-apa. Aku hanya ingin orang lain tahu akan bagaimana kehebatanmu dalam memperjuangkan kehidupan kami, anak-anakmu.

Ibuku adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan luar biasa. Ditahun 1998, dimana krisis moneter mulai menerpa indonesia. Semua bahan pokok naik. Disinilah aku mulai merasakan bagaimana menderitanya ibuku. Dengan kondisi keuangan yang kadang ada kadang tidak, harus menghidupi kami anak-anaknya yang masih usia sekolah. bahkan adik bungsuku masih berusia sembilan bulan. Masih sangat kecil. Ditambah nenekku yang memang sama sekali sudah tidak bisa bekerja.

Dalam kekacauan ekonomi. Mencari lembaran rupiah dengan tangannya sendiri. Sedangkan ayahku pergi tanpa pamit sejak satu setengan tahun yang lalu, entah kemana rimbanya. Seperti hilang ditelan hujan. Sedikitpun kabar tak pernah kami dengar. Apakah ayahku masih hidup atau sudah mati? Tak ada yang tahu!

Seorang perempuan desa tanpa pendidikan dan keterampilan khusus. Jadilah ibuku seorang buruh kasar di PT perkebunan kelapa sawit. Jam tiga dini hari ibuku harus sudah terjaga, disaat kebanyakan orang sedang dimabuk mimpi, ibuku malah sibuk di dapur menyiapkan bekal makanan yang akan mengganjal perutnya nanti dikebun. Jam 04.00 ibuku juga harus sudah ikut berbaris rapi menanti mobil truk pengangkut para buruh dan siap berhimpitan dengan buruh-buruh lainnya.


Tidak hanya itu, ternyata ayahku menghilang dengan meninggalkan setumpuk hutang yang membuat ibuku semakin tenggelam dalam penderitaannya. Entah apa pasalnya hingga ayahku harus terbelit hutang sebegitu banyaknya. Aku tahu hal ini sejak kedatangan beberapa tamu yang tak kukenal, dari yang gemuk pendek sampai yang dari pejabat. Aku rasanya tak mampu lagi menceritakan bagaimana perasaan ibuku yang sempat merasakan tendangan dari seorang oknum TNI karena tak mampu membayar hutang yang terus berbunga.

Dalam ujian ini, ibuku juga sempat berfikir untuk menikah lagi. Tentunya dengan harapan dapat membantu mengentaskannya dari lembah hutang yang gila. Ibuku sangat bijak. Beliau mengumpulkan kami untuk dimintai pendapat "Apakah kami setuju jika ibu mencari ayah baru?'. Tapi beruntung kakak pertamaku tidak setuju, ia tak ingin posisi ayah tergantikan. Bagaimanapun sosok ayah dimatanya adalah pribadi tanpa cacat. Akhirnya ibukupun membatalkan niatnya menikah dengan duda beranak dua. Lagi-lagi ibuku harus sendiri dan menjadi dua pribadi, menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami.

Dalam menjalani hidup yang berat itu, ibuku tak lantas gelap mata dalam mencari makan. Tidak pula ia gegabah mencari suami baru yang ia harapkan dapat meringankan beban yang ditanggungnya. Beliau begitu mencintai kami, sehingga sulit baginya untuk menggadaikan kebahagiaan kami yang walau tanpa ayah ini. Tidak seperti perempuan-perempuan (kebanyakan) sekarang, dengan enaknya kawin-cerai tanpa memperdulikan hati peri-peri kecilnya.

Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Mungkin pepatah ini yang dapat mewakili kisahku. Beberapa tahun kemudian ayahku pulang, melunasi semua hutang-hutangnya. Dan ayah membawa kami hijrah kepropinsi riau demi untuk mencari penghidupan yang layak lagi halal.

Sepenggal kisah ini tak pernah lekang dari ingatanku, tentang ibuku yang cantik sekaligus gagah berani. Semuanya karena ia berperan ganda. "Mak ...salam takzim untukmu."

Sebulan Tanpa Gaji
,



Mungkin suami saya adalah satu dari sekian banyak orang yang hanya menggantungkan pendapatan dari satu sumber rizki. Apalagi model gaji bulanan, dimana setiap tanggal muda adalah tanggal kebahagiaan yang dinanti-nanti. Tapi bagaimana bila ternyata gaji yang ditunggu tidak datang-datang. Satu hari, dua hari, tiga hari..... bahkan sampai akhir bulan gaji tidak kunjung datang. Lembaran-lembaran yang diharap mampu memenuhi kebutuhan hidup, agar periuk tetap terus mengepul, lembaran itu tak kunjung datang. Gaji tidak diberi.

Aku yakin Allah dengan sifat yang rahman rahimnya akan tetap mengaruniai kami rejeki. Karena rejeki itu sendiri tidak hanya berupa lembaran mata uang yang mampu membeli apa saja, bahkan harga diri sekalipun. kesehatan, adalah nikmat terbesar. Dimana dengan badan yang sehat suamiku masih mampu mengais lembaran uang dari jalan yang lain meski dengan jalan yang tidak mudah, tapi tetap yang halal. Halal adalah tujuan utamanya dalam mencari riski. Bukankah rosul sendiri pernah mengingatkan kita agar menjaga dari memakan makanan yang haram.

Dari Abi Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar, maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati".
(HR. Bukhari dan Muslim).

***

Sebulan tanpa gaji bagiku adalah menempuh hari-hari yang sulit. Sedangkan aku sendiri tidaklah bekerja, aku hanya ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan hari-hari dirumah dengan putriku yang masih kecil.

Hari-hari pertama tidaklah begitu berat, semua masih bisa diatasi dengan uang sisa belanja bulan kemaren. Mungkin kalo untuk aku dan suami, hal ini (kekurangan uang) adalah hal yang sangat sering kami alami saat sebelum menikah ( mahasiswa). Kekurangan uang biasa diatasi dengan mudah. Ibarat makan nasi dengan garam saja sudah enak dan mengenyangkan.

Tapi untuk kali ini, sesekali aku tak dapat menahan air mataku yang merembes meski tak banyak (Karena aku mencoba menahannya agar tak diketahui oleh suamiku bahwa aku menangis), Aku takut ia akan merasa sangat bersalah dan sedih atas ketiadaan ini. Bagaimana aku tidak menangis melihat putri kami harus mengganti isi botol susunya dengan air gula. Aku merasa bersalah dan berdosa. Memang sikecil masih minum ASI, Tapi itu saja tak cukup karena ia masih sering menangis. "Maafin umi ya neuk?" demikian pesanku padanya saat memberikan botol susunya yang berisi air gula itu.

Tidak hanya itu beberapa pagi aku tak sanggup membelikan ia kue, untuk sarapan. Karena jika pagi putriku tidak suka nasi dan memang ia sedikit susah makan. Sedangkan aku, yang biasa sarapan pagi harus dengan nasi karena masih menyusui harus menunda sarapan. Aku hanya menghemat agar ada makanan untuk siang dan malam. Tapi dasar memang aku yang sering sakit-sakitan ini tidak sanggup jika pagi tak makan nasi, selama tiga hari akhirnya aksiku harus aku akhiri, karena keesokan malam aku menderita sakit perut hebat.

Meski dalam kondisi demikian, aku masih berfikir bahwa bebanku ini belumlah seberapa. Masih banyak lagi disudut-sudut dunia yang lebih menderita dari kami, bahkan lebih menderita dari apa yang kami alami ini. Kisah ini hanyalah setitik dari beribu dan berjuta kisah pilu saudara-saudara kita digaza.

Biarlah sebulan tanpa gaji ini adalah pembelajaran bagi kami agar dapat lebih mendekat pada-Nya. Mempertajam indra kami untuk melihat sisi lain kehidupan dan lebih membuat hati kami menjadi kian peka atas penderitaan orang-orang yang kurang beruntung.



WH -ku
,

Beberapa hari terakhir, berbagai media khususnya di Aceh senantiasa meletakkan berita terkait pemerkosaan yang diduga dilakukan oknum WH kota langsa sebagai berita utama. Tentu saja demikian, karena berita ini sangat mengguncang bumi serambi mekkah.

Tidak hanya media yang ramai membicarakannya sebagai sebuah sajian berita yang menarik pembaca. Setiap sudut kota, dusun, warung kopi. Semua orang sedang ramai membirakannya, malah ada yang menjadikannya guyonan yang asyik. "Sebuah lembaga yang dikeramatkan dan dianggap mampu menegakkan syariat islam" ternyata malah melakukan tindakan bejad dan amoral sekaligus kriminal yang melanggar perundang-undangan.

Masyarakat telah banyak menyumpahi WH karena perbuatan segelintir orang (oknum WH), apalagi masyrakat kita yang masih suka menyamaratakan masalah. Tiga orang yang berbuat, semua WH se-Aceh seakan menjadi buruk. Semua kebaikan-kebaikan yang selama ini hilang sudah. Masyarakat terlanjur terluka dan marah. Sebuah lembaga yang dianggap mampu membawa perbaikan dalam masyarakat, malah membuat masyarakat menjadi takut dan benci.

Masalahnya kesalahan-kesalahan seperti ini tidak hanya sekali ini, sudah berapa banyak kasus khlawat yang dilakukan oknum WH? Tapi menguap begitu saja. Ini adalah tindakan sembromo yang dilakukan lembaga WH itu sendiri. Bukankah seharusnya, jika diketahui ada yang tidak beres dalam tubuh lembaganya, seperti adanya oknum WH yang yang melalukan pelanggaran segera ditangani dan ditindak tegas setimpal dengan apa yang telah dilanggarnya. Dengan sikap tegas seperti ini maka masyarakatpun tidak akan memandang polisi syariat islam dengan sebelah mata.

Nabi muhammad SAW
bersabda,
“Apakah aku harus memberikan syafaat pada hukum Allah?” Beliau kemudian berdiri untuk berpidato dan bersabda, “Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan apabila ada salah seorang yang terpandang di antara mereka mencuri mereka membiarkannya begitu saja. Akan tetapi jika salah seorang dari mereka yang lemah (rakyat biasa) mencuri maka mereka menegakkan hukuman baginya. Demi Allah, jika saja Fatimah putri Muhammad mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Maka baiknyalah jika ada oknum yang melanggar syariaat dan undang-undang, segeralah ditindak dan diadili sesuai dengan hukum dan pereturan yang ada.

***

Memang menegakkan syariat islam itu seperti memegang bara api ditengah jaman yang kebarat-baratan saat ini. Disaat budaya permisif mulai menyerang bangsa kita, termasuk umat islam Aceh. Sehingga menjadi seorang petugas Wilayatul Hisbah adalah sebuah tanggung jawab besar yang penuh tantangan, bagi orang yang berfikir untuk benar-benar amar ma'ruf nahi mungkar. Tapi tidak bagi orang yang hanya mencari pekerjaan ditengah sulitnya lapangan kerja. Atau hanya karena ada saudaranya yang menjadi WH juga.

Berbagai kalangan meminta agar
ekruitmen personel WH kedepan harus diperketat, setidaknya calon WH harus paham agama, memiliki jiwa pengayom, dan utamakan yang sudah berkeluarga. Serta melihat latar belakang sang calon, seperti akhlaq, pendidikan dan keluarganya. Agar kedepanya tidak lagi ada kasus-kasus perusakan citra WH sebagai polisi penegak syariat yang dilakukan oknum sendiri. Karena bagaimanapun untuk menegakkan syariat islam, WH masih kita butuhkan sebagai polisi syariat. Namun pastinya dengan harapan WH benar-benar diisi oleh orang-orang yang berkompeten. Dan pemerintah daerahpun harus memperhatikan tentang kesejahteraan anggota WH agar mereka bertugas dengan baik tanpa harus memikirkan perut orang-orang yang menjadi tanggungannya.


Gadis Silver Queen
,

Ada sebuah hadist Rasululloh yang menggambarkan bahwa ciri-ciri kiamat sudah dekat adalah apabila ada antara lain : gempa dimana-mana, pembantu yang melahirkan anak majikan, laki-laki yang berpakaian seperti wanita dan wanita yang menyerupai lelaki dan lain-lain. Selain itu diwarnai juga dengan semakin rusaknya dunia; minuman khamr yang dijual dimana-mana, pergaulan bebas dimulai sejak masa kanak-kanak, wanita yang berjalan ditengah keramaian dan melenggak-lenggokan tubuhnya serta berpakaian tetapi seperti telanjang (red; transparan dan sangat membentuk tubuh) padahal hal ini sangat dilarang dalam Islam dan dikatakan bahwa mereka tidak akan mencium bau surga bagi wanita yang seperti ini, karena hal ini jelas sangat mengoda lelaki manapun yang memandang dan juga membuat iri perempaun manapun yang melihat dan mengakibatkan banyaknya fitnah dan ketidakstabilan iman dimanapun. Kemudian ditambah juga dengan maraknya sinetron, tayangan infotainment, kehidupan artis yang hampir semuanya mengumbar aurat. Hal ini mungkin bisa kita fahami bahwa itu adalah pekerjaan mereka sehingga mereka berbuat demikian, walaupun tidak kita setujui. Namun kita tak akan dapat memahami bila membuka aurat bahkan pergaulan free sex yang melingkupi masyarakat materialistis diikuti oleh kita atau bahkan anak-anak remaja kita, terutama bagi remaja putri.

Sangatlah baik bila tidak mudah mengikuti pergaulan bebas, tertawa-tawa gembira dengan kaum lelaki yang bukan muhrim, membuka aurat,mempertontonkan aurat (definisi aurat disini menurut sunnah rasul adalah : selain muka dan telapak tangan).

Selain menjaga aurat juga dengan menjaganya dari pergaulan bebas yang saling memegang dan berdekatan dengan lelaki yang bukan muhrim ataupun sekumpulan lelaki yang bukan muhrim, akan membuat anak putri kita menjadi bermutu dan mahal harganya (gadis elite karena kepandaiannya menjaga diri).

Kepandaian menjaga diri di ibaratkan seperti “Gadis Silverqueen" dengan "Gadis Durian." Anda ingin anak putri anda menjadi gadis silverqueen atau gadis durian?! Coba kita perhatikan bila Silverqueen itu; dibeli dengan agak susah payah, harus melalui toko, dan hanya dijual di toko, diawasi 24 jam oleh kamera cctv, terkumpul rapih dalam satu kotak yang terjaga tidak berbaur dengan produk lain, selain itu juga silverqueen memiliki 2 pembungkus, yaitu aluminium foil didalamnya dan luarnya adalah kemasan yang cantik menggambarkan dirinya dan bila ingin mendapatkannya maka harus melalui prosedur, tidak boleh dicicipi sembarangan, tidak bisa dicium, tidak bisa dibuka atau dilihat sedikitpun dalamnya, dan langsung beli dengan yakin, bayar dan kemudian setelah melalui kasir, silverqueen boleh dibawa pulang, selain itu yang hebatnya lagi ada expired date-nya yang tertera dengan jelas, sehingga orang bisa tahu kemurniannya dan kejujuran isi pun digambarkan dengan menulis isi ingredients didalamnya. Subhanalloh inilah ciri-ciri wanita solihah, seperti gadis Silverqueen.

Beda bila kita melihat gadis tipe durian : bila ingin makan durian, isi nya terbelah menantang, bisa dicium, bisa dicolek, bisa ditawar dijalanan, bisa dijamah beramai-ramai, setelah dicolek tak suka, bisa ditinggal alias tidak jadi, kemasannya pun tak jelas, beda antara isi dengan luarnya, ingredients (isinya) tidak digambarkan, juga expired date atau umurnya tak ada yang tahu, dan bila masih muda malah pahit atau hambar rasanya.

Subhanalloh, anda ingin anak gadis kita menjadi gadis Silverqueen yang anggun dan elite serta hanya didekati oleh pria-pria yang serius menikahinya, atau gadis durian?! yang ada dipinggir jalan, dan memakai baju yang terbuka menggambarkan isinya dan mudah dicolek ,dijamah, dicicipi, bila tak suka ditinggal tanpa bisa marah, astaghfirullohaladzhiim ( QS. An-Nuur ; 30).

Sumber: www.jisc.eramuslim.com

IBUKU PEREMPUAN
,


Rasanya aku ingin berteriak pada semua orang, aku ingin memberitahukan pada mereka semua, bahwa ibuku perempuan. Mungkin orang akan mengeryitkan dahi mendengar kataku tentang ibu perempuanku. Bukankah hanya seorang perempuan yang mendapatkan predikat ibu, dan pastilah setiap ibu adalah perempuan, meski kadang seorang perempuan taklah sempurna menjadi ibu.

Ibuku perempuan! Karena suaranya lembut mendayu bagaikan kerisik dedaunan malam yang tersapu angin. Meski kadangkala suaranya menggelegar bagai petir disaat hujan lebat. Petir ini selalu tampil saat aku tak pandai mengurusi diriku yang sudah mulai mengerti dan salah dimatanya. Terkadang suaranya santai dan merdu seperti riak gelombang di pantai, bergemericik dengan tenangnya.

Aku senang memiliki ibu perempuan. Ia selalu ada saat aku bertanya. Ia selalu ada saat aku butuh bahu untuk menyandarkan kepala. Ia ada saat aku butuh teman untuk bercerita tentang semuanya. Ibuku juga yang senantiasa menyiapkan segala kebutuhanku, dari sarapan hingga ketika aku ingin sesuatu yang baru. Tangannya yang gemulai mematahkan cabai-cabai hijau dan merah dengan pedasnya yang membakar. Dengan menu-menu barunya, dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang ia ceritakan saat ia bersenda dirumahnya yang kedua tentang rasa manis, asin, gurih nan menggugah selera. Dapur.

Ibuku tidaklah setengah laki-laki. Beliau senantiasa sopan dan santun. Gamis, rok panjang, baju panjang, serangkaian jilbab dan kaos kaki, Semua itu selalu melekat padanya dan selalu menjaga tubuhnya. Rasanya tak pernah sekalipun aku mendapatinya menggunakan celana panjang layaknya perempuan-perempuan masa kini. Yang kadang malah aku tidak mampu lagi membedakan apakah seseorang yang ada dihadapanku seorang perempuan atau lelaki. Dengan gaya yang sama, pakaian yang mirip dan lenggak lenggok yang aduhai. Namun ketika aku sadari suaranya sangat khas. aku jadi takut! Demikian juga, kadang aku jadi bingung kala seorang dihadapanku sangatlah cool, dari pakaian, tampang dan semuanya, sangat macho. Sayang ternyata suaranya sangat merdu seperti ibu perempuanku. Weleh........

Aku bagai di anugrahi piala world cup, dengan memiliki ibu seperti dirinya. Ibuku yang tiada berhenti menyiapkan , menyajikan, menata, merapikan, menghiasi, dan tak lupa membersihkan rumah juga pakaian kami dengan tangannya yang sudah mulai kasar. Meski aku tahu kadangkala rasa bosan menyelinap dalam hatinya yang lembut, bosan mengerjakan itu-itu saja dan begitu-begitu saja. Memasak lagi, mencuci lagi, menyapu lagi, semuanya berulang terus menerus, hari dan hari hingga menuai tahun. Itu lagi dan lagi...... Tapi rasa jemu itu segera ia bungkus dengan keikhlasan agar tidak lekas merajai dirinya sebagai seorang perempuan.

Ibu perempuanku juga bukanlah wanita yang bodoh, ia sangat cerdas dan cermat. Meski ia sadar jika seorang perempuan tidak akan kemana-kemana kecuali tiga tempat. Yakni dapur, sumur dan kasur. Ibuku sadar sesadar-sadarnya, bahwa menjadikan ketiga tempat itu bagaikan surga bagi suami dan anak-anaknya, bukanlah hal yang mudah. Semuanya butuh ilmu. Semua jenis ilmu juga dibutuhkan. Dari ilmu yang sederhana, ilmu agama, IPA, IPS bahkan ilmu yang hitung-menghitung juga diperlukan. Makanya, ibukupun menyelesaikan Strata I-nya.

Ibu juga sangat menyadari bahwa dirinya adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Maka jika seorang ibu kurang ilmu, lalu bagaimana ia akan mendampingi anak-anak dan bagaimana pula kelak ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut-mulut mungil sang buah hati. Meskipun kini ibu sudah sangat sibuk, antara mengurus ayah, aku dan adik-adikku. Namun itulah ibuku yang perempuan, masih bersemangat menambah ilmu, ingatlah pedomannya" Satu hari satu ilmu, cukuplah...."

Disaat ibu-ibu lain sibuk menitipkan buah hati mereka pada tempat-tempat penitipan anak. Tidak dengan ibuku. Ia terlalu sayang pada anak-anaknya. Bahkan ibuku yang perempuan ini, merelakan jabatan yang sudah ia dapati dengan susah payah sebelum beretemu dengan ayah lelakiku, beliau tinggalkan dengan penuh kerelaan. Tentu demi aku dan adik-adikku.

Ohhh.... Ibuku, engkau benar-benar perempuan sejati. Seperti Khodijah. Ummul mukminin yang begitu engkau idolakan.

Ohh....Adakah yang sebahagia aku dengan seorang ibu yang benar-benar seorang perempuan.