Ibuku...Kebanggaanku
,


Ibu. Siapa yang tak bangga akan ibunya? Kalau memang ada, mungkin akalnya sudah berkurang. Dalam episode ini (kontribusi blogger, inspirasi untuk negeri) aku akan menuliskan tentang ibuku, tidak hanya karena ia melahirkan, menyusui, dan mengasuhku dengan cermat dan teliti-penuh kasih sayang. Hal ini sangatlah lazim meski kita tak akan pernah mampu membayarnya. Mak (begitulah biasanya aku memanggil beliau) biarkan aku ukir namamu dalam tulisanku. Tidak untuk apa-apa. Aku hanya ingin orang lain tahu akan bagaimana kehebatanmu dalam memperjuangkan kehidupan kami, anak-anakmu.

Ibuku adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan luar biasa. Ditahun 1998, dimana krisis moneter mulai menerpa indonesia. Semua bahan pokok naik. Disinilah aku mulai merasakan bagaimana menderitanya ibuku. Dengan kondisi keuangan yang kadang ada kadang tidak, harus menghidupi kami anak-anaknya yang masih usia sekolah. bahkan adik bungsuku masih berusia sembilan bulan. Masih sangat kecil. Ditambah nenekku yang memang sama sekali sudah tidak bisa bekerja.

Dalam kekacauan ekonomi. Mencari lembaran rupiah dengan tangannya sendiri. Sedangkan ayahku pergi tanpa pamit sejak satu setengan tahun yang lalu, entah kemana rimbanya. Seperti hilang ditelan hujan. Sedikitpun kabar tak pernah kami dengar. Apakah ayahku masih hidup atau sudah mati? Tak ada yang tahu!

Seorang perempuan desa tanpa pendidikan dan keterampilan khusus. Jadilah ibuku seorang buruh kasar di PT perkebunan kelapa sawit. Jam tiga dini hari ibuku harus sudah terjaga, disaat kebanyakan orang sedang dimabuk mimpi, ibuku malah sibuk di dapur menyiapkan bekal makanan yang akan mengganjal perutnya nanti dikebun. Jam 04.00 ibuku juga harus sudah ikut berbaris rapi menanti mobil truk pengangkut para buruh dan siap berhimpitan dengan buruh-buruh lainnya.


Tidak hanya itu, ternyata ayahku menghilang dengan meninggalkan setumpuk hutang yang membuat ibuku semakin tenggelam dalam penderitaannya. Entah apa pasalnya hingga ayahku harus terbelit hutang sebegitu banyaknya. Aku tahu hal ini sejak kedatangan beberapa tamu yang tak kukenal, dari yang gemuk pendek sampai yang dari pejabat. Aku rasanya tak mampu lagi menceritakan bagaimana perasaan ibuku yang sempat merasakan tendangan dari seorang oknum TNI karena tak mampu membayar hutang yang terus berbunga.

Dalam ujian ini, ibuku juga sempat berfikir untuk menikah lagi. Tentunya dengan harapan dapat membantu mengentaskannya dari lembah hutang yang gila. Ibuku sangat bijak. Beliau mengumpulkan kami untuk dimintai pendapat "Apakah kami setuju jika ibu mencari ayah baru?'. Tapi beruntung kakak pertamaku tidak setuju, ia tak ingin posisi ayah tergantikan. Bagaimanapun sosok ayah dimatanya adalah pribadi tanpa cacat. Akhirnya ibukupun membatalkan niatnya menikah dengan duda beranak dua. Lagi-lagi ibuku harus sendiri dan menjadi dua pribadi, menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami.

Dalam menjalani hidup yang berat itu, ibuku tak lantas gelap mata dalam mencari makan. Tidak pula ia gegabah mencari suami baru yang ia harapkan dapat meringankan beban yang ditanggungnya. Beliau begitu mencintai kami, sehingga sulit baginya untuk menggadaikan kebahagiaan kami yang walau tanpa ayah ini. Tidak seperti perempuan-perempuan (kebanyakan) sekarang, dengan enaknya kawin-cerai tanpa memperdulikan hati peri-peri kecilnya.

Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Mungkin pepatah ini yang dapat mewakili kisahku. Beberapa tahun kemudian ayahku pulang, melunasi semua hutang-hutangnya. Dan ayah membawa kami hijrah kepropinsi riau demi untuk mencari penghidupan yang layak lagi halal.

Sepenggal kisah ini tak pernah lekang dari ingatanku, tentang ibuku yang cantik sekaligus gagah berani. Semuanya karena ia berperan ganda. "Mak ...salam takzim untukmu."