Layak Menerima Titipan
,


Mungkin bagi sebagian orang, memiliki anak dengan jarak lahir yang yang rapat adalah momok yang menakutkan. Bisa saja bayang-bayang kerepotan selalu melintas. " Bagaimana nanti dengan kakakmya yang masih terlalu kecil bahkan masih dibilang bayi, sang kakak akan kekurangan ASI disaat sang ibu sedang mengandung calon adiknya. Belum lagi bayangan kerepotan masalah keuangan, jika kelas ekonominya termasuk golongan menengah kebawah. Belum lagi bayangan-bayangan kerepotan yang lain.

Tetapi tidak dengan aku, aku merasakan sangat bahagia setelah melihat hasil tespek menunjukkan tanda positif. Aku bangga dan bahagia, meski ada rasa iba terhadap putri pertamaku yang baru berusia satu tahun dua minggu. Ku tenangkan hatiku, saat sang kakak harus mengganti susu terbaiknya dengan susu formula. Terasa ada sayatan-sayatan kecil melukai hati ini, tapi biarlah...... sang adikpun menuntut gizi yang cukup untuk perkembangannya pada trimester pertama. Aku tetap bahagia.

Anehnya kehamilanku kali ini mengundang banyak gunjingan. "Mengapa ??? Apa ini suatu hal yang aneh?" Karena hampir setiap orang yang mengetahui kehamilanku senantiasa menanyakan apakah aku tidak berKB? Apa aku tidak kasihan sama putriku yang masih kecil dan butuh ASI? Berbagai macam komentar yang membuat kuping jadi merah, yang lebih parahnya ada juga dari keluarga yang selalu memojokkan atas kehamilanku dan menyuruhku untuk segera menggugurkanya.

Rasanya aku ingin berbagi kesetiap orang dan mengabarinya tentang kehamilanku saat ini, Namun dari sekian banyak orang, baik itu keluarga, sahabat ataupun teman, selalu melongo dan berkomentar tidak seperti yang ku harapkan. Aku stress, karena tak seorangpun yang senang akan kehamilan ini kecuali suamiku tercinta.

Akhirnya suatu kali iseng-iseng aku menelephon seorang teman yang dulu pernah nyantri bersama. Tak lupa akupun mengabarkan berita gembira ini sebagai salam hangat. Tak ku sangka jawabannya begitu menyejukkan, di saat semua orang menyalahkan aku yang hamil terlalu cepat dikarenakan masih merawat bayi kecil. Tapi tidak dengannya, dia mengatakan bahwa allah telah memilih orang yang tepat untuk menjaga titipan-NYA. Allah percaya dengan kamu, dirawat ya? Hatiku terasa tersiram air yang sangat menyejukkan. Dinginnya sampai kejiwa.


Seperti kehamilanku yang pertama, kali inipun aku jaga dan kurawat sepenuh jiwa, minun susu, banyak istirahat, dan sebagainya. semua kuperlakukan dengan baik seperti kehamilan sang kakak waktu itu.Tapi ........entah kenapa saat usianya genap dua bulan, aku sering pendarahan lucut, setelah aku periksakan keUSG ternyata janinku tidak berkembang. Seketika itu juga bulir-bulir kristal jatuh satu persatu dari tempat persembunyiannya. Perjuanganku berakhir, dan dokter bilang aku harus segera kuret. Aku tak berdaya.

Ya..Allah, aku redlo dengan keputusanMu, meski sakitku ini tak terobati. Hanya harapanku "anakku, berbahagialah dengan teman-temanmu di surga allah, dalam inangan nabi allah ibrahim alaihis salam. Meski cuma dua bulan umi bersamamu, umi dah cukup bahagia nak." Ya allah terimakasih atas titipanMU walau sesingkat ini.




0 komentar: